TEORI PELUANG
A. Ruang Sampel
Dalam mempelajari statistika pada dasarnya perhatian
kita ditujukan pada penyajian dan penafsiran dari hasil yang berkemungkinan
yang terjadi pada penelitian yang dirancang atau penelitian ilmiah. Sebagai
contoh, kita mungkin mencatat banyaknya kecelakaan yang terjadi tiap bulan di
prapatan Jalan Achmad Yani dan Sudirman, dengan harapan penambahan rambu lalu
lintas. Jadi statistikawan sering berurusan dengan data percobaan yang
berbentuk bilangan atau pengukuran.
Statistikawan menggunakan istilah percobaan untuk
menyatakan tiap proses yang menghasilkan data mentah. Misalnya suatu percobaan
statistika berupa lantunan suatu mata uang logam. Dalam percobaan ini hanya ada
dua macam hasil yang mungkin, ‘muka’ dan ‘belakang’. Walaupun sebuah mata uang
dilantunkan berulang kali, kita tidak akan pernah dapat memastikan bahwa suatu
lantunan tertentu akan menghasilkan ‘muka’. Akan tetapi kita tahu seluruh
kemungkinan yang dapat terjadi untuk tiap lantunan.
Ruang sampel adalah
himpunan dari semua hasil (outcome) yang mungkin dari suatu percobaan
(experiment) statistika dan dinyatakan dengan notasi S.
Ruang sampel suatu percobaan dapat
dinyatakan dalam bentuk diagram pohon atau tabel. Tiap hasil
dalam ruang sampel disebut unsure atau anggota ruang sampel tersebut atau
dengan singkat suatu titik sampel.
Titik sampel adalah tiap anggota atau elemen
dari ruang sampel.
Bila
ruang sampel mempunyai unsure yang hingga banyaknya, maka anggotanya dapat
didaftar dengan menuliskannya diantara dua akolade, masing-masing unsur dipisah
oleh koma. Jadi ruang sampel S yang merupakan kumpulan semua hasil yang mungkin
dari suatu lantunan mata uang dapat ditulis sebagai
S = [M,B],
M
menyatakan muka dan B menyatakan belakang.
Menetapkan ruang sampel adalah
langkah awal yang perlu dilakukan sebagai dasar untuk menghitung peluang suatu
peristiwa yang ada dalam ruang sampel ini. Peluang terjadinya S adalah
sama dengan satu. Ini merupakan konsekuensi logis, karena jumlah titik S
adalah jumlah semua peristiwa yang mungkin demikian pula dengan peluangnya.
Dalam diagram Venn notasi S ditempatkan pada ujung kanan atas persegi
panjang.
Peluang dari ruang sampel S,
P(S) = 1
B. Kejadian
Dalam tiap percobaan kita mungkin ingin mengetahui
munculnya kejadian tertentu dan bukan hasil unsur tertentu dalam ruang sampel. Misalnya
kita ingin mengetahui mengenai kejadian A bahwa hasil lantunan sebuah dadu
dapat dibagi tiga. Ini akan terjadi bila hasilnya merupakan unsur himpunan
bagian A=[3,6] dari ruang sampel S=[1,2,3,4,5,6].
Tiap kejadian berkaitan dengan sekelompok titik
sampel yang membentuk himpunan bagian ruang sampel tersebut. Himpunan bagian
ini mewakili semua unsur yang membuat kejadian dapat muncul.
Kejadian
adalah himpunan bagian dari ruang sampel.
1.
Komplemen
Pandanglah suatu percobaan yang mencatat kebiasaan
merokok para karyawan suatu pabrik. Suatu kemungkinan ruang sampel dapat
berbentuk pengelompokkan tiap karyawan dalam kelompok tak perokok, perokok
ringan, perokok sedang, dan perokok berat. Ambillah himpunan bagian perokok
sebagai suatu kejadian. Maka semua yang tak perokok merupakan kejadian
tersendiri, yang juga termasuk himpunan bagian dari dari S disebut pelengkap
atau komplemen dari himpunan perokok.
Komplemen
suatu kejadian A terhadap T adalah himpunan semua unsure T yang tidak termasuk
A. Komplemen dinyatakan dengan lambang A’.
Misalnya
ruang sampel S = {buku, rokok, cangkul, montir, temperature, es}. A = {rokok,
montir, temperature}. Maka A’ = {buku, cangkul, es}.
2.
Irisan
Selanjutnya operasi yang menyangkut kejadian yang
akan menghasilkan kejadian baru. Kejadian yang baru ini masih merupakan
himpunan bagian dari ruang sampel semula. Misalkan A dan B dua kejadian yang
berkaitan dengan suatu percobaan. Dengan kata lain, A dan B himpunan bagian
dari ruang sampel S yang sama. Sebagai contoh, pada lantunan dadu misalkan A
kejadian bahwa bilangan genap yang muncul dan B kejadian bahwa bilangan yang
lebih besar dari 3 yang muncul. Maka himpunan bagian A = {2, 4, 6} dan B = {4,
5, 6} merupakan himpunan bagian dari ruang sampel S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} yang
sama. Perhatikan bahwa A maupun B akan muncul pada suatu lantunan tertentu bila
hasilnya suatu unsure dari himpunan bagian {4, 6}, yang merupakan irisan dari A
dan B.
Irisan
dua kejadian A dan B, dinyatakan dengan lambang A
B, ialah kejadian yang unsurnya termasuk
dalam A dan B.
Dalam percobaan statistika tertentu tidak jarang
didefinisikan dua kejadian A dan B yang tidak mungkin terjadi sekaligus. Kedua
kejadian A dan B seperti itu dikatakan saling meniadakan atau saling terpisah.
Kejadian
A dan B saling meniadakan atau terpisah bila A
B = Ø, yakni bila A dan B tidak memiliki unsur
persekutuan.
3.
Gabungan
Sering kita ingin mengetahui tentang terjadinya
paling sedikit satu dari dua kejadian padasuatu percobaan. Jadi pada percobaan
lantunan dadu, bila A = {2, 4, 6} dan B = {4, 5, 6}, misalkan ingin diselidiki
terjadinya salah satu dari A atau B, atau A dan B keduanya terjadi. Kejadian
seperti itu disebut gabungan A dan B yang terjadi bila hasilnya merupakan unsur
dari himpunan bagian {2, 4, 5, 6}.
Gabungan
dua kejadian A dan B dinyatakan dengan lambang A
B ialah
kejadian yang mengandung semua unsur yang termasuk A atau B atau keduanya.
Misalkan
A = {a, b, c} dan B = {b, c, d, e}, maka A
B = {a, b, c, d, e}
Hubungan antara kejadian dan ruang sampel padanannya
dapat digambarkan dengan Diagram Venn.
Dalam suatu Diagram Venn misalkan ruang sampel digambarkan sebagai empat
persegi panjang dan kejadian dinyatakan sebagai lingkaran di dalamnya.
|
A
B = daerah 1 dan 2
B
C = daerah 1 dan 3
A
C = daerah 1, 2, 3, 4, 5, dan 7
B’
A = daerah 4 dan 7
A
B
C = daerah 1
(A
B)
C’ = daerah 2, 6, dan 7
Dan seterusnya.
C. Menghitung Titik Sampel
1.
Prinsip
Dasar Menghitung
a)
Prinsip
dasar penjumlahan
Prinsip
dasar penjumlahan adalah jika percobaan I dapat dilakukan dalam n cara dan
percobaan II dapat dilakukan dalam m cara tetapi kedua percobaan tidak dapat
dilakukan secara bersamaan, maka semua percobaan dapat dilakukan dalam n + m cara.
Misalnya
suatu kelas ingin memilih seorang ketua kelas. Ketua kelas yang dipilih dapat
dari pihak laki-laki yang terdiri dari 10 orang dan pihak perempuan yang
terdiri dari 15 orang. Berapa banyak cara memilih ketua kelas?
Pekerjaan
pertama adalah memilih seorang siswa dari pihak laki-laki yang terdiri dari 10
orang. Hal ini dapat dilakukan dalam 10 cara.
Pekerjaan
kedua adalah memilih seorang siswa dari pihak perempuan yang terdiri dari 15 orang.
Hal ini dapat dilakukan dalam 15 cara.
Kedua
pekerjaan ini tidak dapat dilakukan secara bersamaan, karena ketua kelas yang
dipilih hanya satu orang. Jadi banyaknya cara memilih ketua kelas adalah 10 +
15 = 25 cara.
b)
Prinsip
dasar perkalian
Prinsip
dasar perkalian adalah jika suatu pekerjaan dapat dilakukan dalam m cara dan
setiap m cara dapat dilakukan pekerjaan lain dalam n cara, maka seluruh
pekerjaan dapat dilakukan dalam m × n cara.
Misalnya
berapa banyak titik sampel dalam ruang sampel bila sepasang dadu dilantunkan
sekali?. Dadu pertama dapat menghasilkan salah satu dari m = 6 posisi. Untuk
tiap posisi tersebut dadu kedua dapat pula menghasilkan n = 6 posisi. Jadi,
pasangan dadu itu dapat menghasilkan m × n = 6 × 6 = 36 posisi.
2.
Permutasi
dan Kombinasi
a)
Permutasi
Permutasi adalah suatu susunan yang
dapat dibentuk dari sekumpulan objek dengan memperhatikan urutannya.
Banyak permutasi dari r
objek yang diambil dari n objek (r ≤ n) dinotasikan dengan nPr, didefinisikan
nPr = 
1) Banyaknya
permutasi n benda yang berlainan adalah n
2) Banyaknya
permutasi n benda yang berlainan yang disusun melingkar adalah (n – 1)
3) Banyaknya
permutasi yang berlainan dari n benda bila n1 diantaranya berjenis
pertama, n2 berjenis kedua, …. , nk berjenis ke k adalah
4) Banyaknya
cara menyekat suatu himpunan n benda dalam r sel, masing-masing berisi
unsur dalam sel
pertama,
dalam sel kedua, dst…. Adalah
dengan 
b)
Kombinasi
Kombinasi adalah susunan berbeda
yang dapat dibentuk dari keseluruhan atau sebagian objek tanpa memperhatikan
urutannya.
Banyak kombinasi dari r
objek yang diambil dari n objek dinotasikan dengan nCr ,
didefinisikan
nCr = 
D. Peluang Suatu Kejadian
Jika ruang sampel S mempunyai anggota yang berhingga
banyaknya dan setiap titik sampel mempunyai kesempatan untuk muncul yang sama,
dan A suatu kejadian munculnya percobaan
tersebut, maka peluang kejadian A dinyatakan dengan:
P(A)
= Peluang muncul A
n(A)
= banyaknya kejadian A
n(S)
= banyaknya kemungkinan kejadian S
Untuk
menentukan peluang suatu kejadian A, semua bobot titik sampel dalam A
dijumlahkan. Jumlah ini dinamakan peluang A dan dinyatakan dengan P(A).
Peluang
suatu kejadian A adalah jumlah bobot semuatitik sampel yang termasuk A. Jadi
0

Bila
ruang sampel suatu percobaan berisi N unsur, dan masing-masing dapat terjadi
dengan peluang yang sama, maka tiap titik mendapat peluang
Peluang setiap kejadian N yang berisi n dari
ke N titik sampel adalah nisbah dari banyaknya unsur di A dengan unsur di S.
Bila
suatu percobaan dapat menghasilkan N macam hasil yang berkemungkinan sama, dan
bila tepat sebanyak n dari hasil berkaitan dengan kejadian A, maka peluang
kejadian A adalah
P(A)
= 
E. Aturan Penjumlahan
Bila
A dan B dua kejadian sembarang, maka
P(A
B) = P(A) + P(B) – P(A
B)
Bukti
Perhatikan
diagram venn berikut. P(A
B) adalah jumlah peluang titik sampel
dalam A
B.. P(A) + P(B) menyatakan jumlah semua
peluang dalam A dan jumlah semua peluang dalam B. jadi peluang dalam A
B telah dijumlahkan dua kali. Karena peluang
semua titik dalam A
B adalah P(A
B) maka peluang ini harus dikurangkan sekali
untuk mendapatkan jumlah peluang dalam A
B yaitu P(A
B).
![]() |
Akibat 1
Bila
A dan B kejadian yang terpisah, maka
P(A
B) = P(A) + P(B)
Akibat 2
Bila
A1, A2, A3, ….. , An saling
terpisah, maka
P(A1
A2
…..
An) = P(A1) + P(A2
) +….. +P(An)
Akibat 3
Bila
A1, A2, ….. , An merupakan suatu sekatan ruang sampel S, maka
P(A1
A2
…..
An) = P(A1) + P(A2
) +….. +P(An)
= P(S) = 1
Sehingga
untuk tiga kejadian A, B, dan C
P(A
B
C) = P(A) + P(B) + P(C) – P(A
B) - P(A
C) - P(B
C) + P(A
B
C)
Bila
A dan A’ kejadian yang berkomplementer, maka P(A) + P(A’) = 1
F. Peluang Bersyarat
Peluang
terjadinya suatu kejadian B bila diketahui bahwa kejadian A telah terjadi
disebut peluang bersyarat dan
dinyatakan dengan P(B|A). Lambang P(B|A) biasanya dibaca ‘peluang B terjadi
bila diketahui A terjadi’.
Peluang
bersyarat B bila A diketahui, dinyatakan dengan P(B|A), ditentukan oleh
P(B|A)
=
, bila P(A)
0
Kejadian
Bebas
Pandang
dua kejadian A dan B yang memenuhi hubungan
P(A|B) = P(A). Terjadinya B sama sekali tidak mempengaruhi terjadinya A.
Dalam hal ini terjadinya A bebas dari terjadinya B.
Dua kejadian A dan B bebas jika dan hanya
jika
P(B|A) = P(B)
Dan
P(A|B) = P(A)
Jika tidak demikian, A dan B tidak
bebas.
Hubungan
P(B|A) = P(B) mengakibatkan P(A|B) = P(A), dan sebaliknya.
G. Aturan Perkalian
Bila
kejadian A dan B dapat terjadi pada suatu percobaan, maka
P(A
B) = P(A)P(B|A)
Jadi
peluang A dan B terjadi serentak sama dengan peluang A terjadi dikalikan dengan
peluang terjadinya B bila A terjadi. Karena kejadian (A
B) dan (B
A) ekivalen, maka juga
berlaku
P(A
B = P(B
A ) = P(B)P(A|B)
Dengan
kata lain, tidaklah menjadi soal kejadian mana yang disebut A dan yang disebut
B.
Dua kejadian A dan B bebas jika dan hanya
jika P(A
B) = P(A)P(B)
Jadi,
untuk mendapatkan peluang bahwa dua kejadian bebas akan terjadi bersama, cukup
cari hasil kali peluang kedua kejadian.
Bila dalam suatu percobaan, kejadian A1,
A2, ….. , Ak dapat
terjadi, maka
P(A1
A2
…..
Ak ) = P(A1)P(A2|A1)P(A3|A1
A2)……P(Ak|A1
A2
…..
Ak-1)
Bila
kejadian A1, A2, ….. , Ak bebas, maka
P(A1
A2
…..
Ak ) = P(A1 )P( A2
) ….. P(Ak )
H.
Aturan
Bayers
Misalkan kejadian B1, B2,
…., Bk merupakan suatu sekatan (partisi) dari ruang sampel S dengan
P(Bi)
untuk i = 1, 2, …, k, maka untuk setiap
kejadian A anggota S
P(A) = 
Bukti
Perhatikan
diagram Venn di bawah. Terlihat bahwa kejadian A merupakan gabungan dari
sejumlah kejadian yang saling terpisah B1
A, B2
A, …, Bk
A. Yaitu,
A
= (B1
A)
![]() |
Dengan menggunakan akibat 2 pada aturan
penjumlahan dan teorema pada aturan perkalian, maka diperoleh
P(A) =
P[(B1
A) 
=
P(B1
A) + P(B2
A) + … + P(Bk
A)
=
=
(Aturan
Bayers) Misalskan kejadian B1, B2, ….,
Bk
merupakan suatu sekatan ruang
sampel S dengan P(Bi)
0 untuk i = 1, 2, …, k. Misalkan A suatu
kejadian sembarang dalam S dengan P(A)
0.
Maka
P(Br|A)
=
Untuk r = 1, 2, …, k
Bukti
Menurut defenisi peluang bersyarat
P(
=
Dan
dengan menggunakan teorema aturan bayers sebelumnya pada penyebut, kita peroleh
P(
= 
Gunakan
teorema aturan perkalian pada pembilang dan penyebut, kita peroleh bentuk
P(
= 


Tidak ada komentar:
Posting Komentar